Tampilkan postingan dengan label tekno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tekno. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Januari 2013

Unknown

Penemu Teknologi Pemindai 4D Pertama di Dunia



Warsito dan Keluarga 
WARSITO nyaris gila saat komputer kerjanya hangus terbakar disambar petir. Hanya satu laptop tersisa, dan itu juga tiba-tiba jebol. Ini cobaan berat: di komputer itu, hasil riset belasan tahun hilang tak berjejak.
Hampir sepekan dia berdiam diri di kamar. Mimpinya seperti kandas. Dia ingin menciptakan alat pemindai empat dimensi (4D) berbasis teknologi Electrical Capacitance Volume-Tomography (ECVT). Itu teknologi pemindaian tiga dimensi (3D), dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi, sehingga menghasilkan citra 4D.
Getir. Tapi dia harus bangkit, dan tak boleh menyerah. Musibah itu memaksanya kembali membongkar arsip, dan catatan riset. Satu tim ahli dibentuknya membantu kerja besar itu. Mereka dari Center for Tomography Research Laboratory (CTECH Labs).
Barangkali itu hikmah di balik musibah. Sebelumnya, dia malas membongkar data yang tersimpan belasan tahun. Semuanya bertumpuk seperti bangunan tumpang tindih. Tak ada cara lain merapikannya, kecuali membongkar, dan membangun ulang dari nol. “Mungkin di sini kunci keberhasilan itu,” katanya.
Pada 2004, riset itu kelar. Tapi masih dalam bentuk simulasi. Meski begitu, temuan Warsito segera menjadi incaran sejumlah perusahaan terkemuka dunia. Teknologi pemindai 4D  pertama di dunia itu akhirnya dipatenkan di Amerika Serikat, dan lembaga paten internasional PTO/WO pada 2006.
Tak kurang, yang naksir berat adalah NASA, lembaga antariksa Amerika. “NASA adalah lembaga luar yang pertama kali mengakui teknologi ini, dan kemudian memakainya meskipun masih taraf riset,” katanya.
NASA memakai teknologi temuannya itu, untuk mengembangkan sistem pemindai tumpukan embun di dinding luar pesawat ulang-alik. Saat pesawat itu meluncur, ada perubahan suhu sangat tinggi. Tumpukan embun itu bisa merusak dinding pesawat  yang terbuat dari keramik.
Setelah NASA, temuan Warsito dilirik oleh lembaga top lainnya, seperti Ohio State University, perusahaan B&W, Departemen Energi Amerika, University of Cambridge, dan sejumlah lembaga besar lain.
Teknologi Warsito itu diperkirakan bakal membawa perubahan drastis dalam perkembangan riset dan teknologi. Jangkauannya juga luas. Mulai dari bidang energi, proses kimia, kedokteran hingga nano-teknologi.
***
Menekuni riset tomografi sejak 1992, persisnya saat dia kelar tugas akhir S1, Warsito mengatakan hasil yang dicapainya adalah buah dari kerja keras. Tomografi yang dia kembangkan bukan ada secara tiba-tiba. “Proses pengembangannya panjang, diikuti improvisasi terus-menerus sampai saat ini,”  ujarnya.
Tomografi adalah teknologi memindai berbagai obyek, dari luar hingga kondisi bagian dalam, tanpa harus merusak penampangnya. Teknologi ini terdiri dari rangkaian sistem sensor, elektronika, dan komputer.
Dengan teknologi ini, pemindaian bisa dilakukan dari luar, tanpa menyentuh obyek. Contoh paling umum adalah mesin CT Scan, dan MRI yang digunakan di bidang kedokteran. Hanya, dua alat itu sekadar menghasilkan citra dua dimensi (2D), dengan obyek tidak bergerak.
Sedangkan tomografi  ciptaan Warsito mampu memindai 3D, atau volumetrik dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi. “Jadi bisa 4D yakni tiga dimensi ruang dan satu dimensi waktu,” ujarnya. Aplikasinya pun, kata Warsito, sangat luas. “Dari reaktor yang dipakai di pabrik-pabrik, tubuh manusia, obyek-obyek skala nano, hingga perut bumi.”
Menurut Warsito, pemindaian dari dalam menuju luar dinding itu bisa dilakukan karena teknologi tomografi 4D kreasinya memakai gelombang listrik non-linear. Teknologi pemindai lain menggunakan gelombang linear, sehingga hanya bisa memindai dari luar obyek, ke dalam obyek.
Di Indonesia, teknologi yang masih terus dikembangkan Warsito ini, digunakan untuk pemindaian tabung gas bertekanan tinggi, seperti kendaraan berbahan bakar gas Bus Transjakarta.
Tabung gas bertekanan tinggi perlu dipindai untuk memeriksa apabila ada retakan di dalam tabung yang tidak terlihat. Sebab, retakan itu bisa mengakibatkan ledakan, dan berdampak fatal. Sistem pemindai ini telah dipakai di pabrik tabung gas tekanan tinggi di Cikarang.
“Ada banyak teknologi turunan dari sensor dan tomografi ini yang sekarang sedang kami kembangkan, seperti sensor untuk treatment kanker, sistem pemindaian aktivitas otak manusia, hingga sensor untuk kebocoran tabung gas,” Warsito menambahkan.
Di bidang kedokteran, teknologi temuan Warsito jelas mengungguli kemampuan CT Scan dan MRI.Penemu CT Scan, Sir Godfrey Hounsfield dan Dr. Alan Cormack, diganjar Nobel Bidang Fisiologi  dan Kedokteran 1979. Pun penemu MRI, Paul Lauterbur dan Sir Peter Mansfield, yang meraih penghargaan sama tahun 2003.
Akankah Warsito menjadi peraih Nobel di masa mendatang?
“Rasanya terlalu tinggi untuk bangga dengan ini semua. Yang saya pikirkan hanyalah keinginan memberikan harapan bagi bangsa agar tidak terlalu pesimis dengan kemampuan mereka, dan tidak harus merasa rendah terhadap bangsa mana pun juga,” ujar Warsito.
***
Bukan Superman, tokoh kartun DC Comics itu,  yang memberi ilham bagi Warsito menciptakan teknologi ‘tembus pandang’ ini. Ia bahkan berkelakar tak percaya kehebatan Superman.
Temuan ini hanya serpihan imajinasinya sewaktu SMA. Kala itu, ia terpaku dengan sosok jenius dalam komik yang berhasil mengembangkan mesin foto copy yang mampu mengkloning benda sama persis aslinya.
“Cerita itu tidak pernah saya lupa. Itu sedikit memberi inspirasi untuk mengembangkan teknologi tomografi ini. Karena teknologi ini bisa ‘meng-copy’ seluruh obyek menjadi data digital 3D,” ujar lelaki yang kini menjabat sebagai staf ahli Menristek.
Lahir di Solo, 16 Mei 1967, dia yang bernama lengkap Warsito P Taruno ini, bukanlah anak yang tumbuh dengan mimpi besar. Sebagai anak desa di lereng Gunung Lawu, ia menjalani hidup ala kadarnya. Ia habiskan masa kecil bergumul dengan sawah, dan ternak.
Tapi memang, kemampuan intelektualitasnya ditempa karena dia gemar membaca buku. “Saya meminjam buku apa saja yang bisa saya pinjam dan baca. Saya membacanya di mana saja, bisa di sawah, ladang, sungai. Kambing saya kenyang makan tanaman orang, saya kenyang baca buku,” ujarnya. Aktivitas itu dilakoninya hingga lepas masa SMA.
Sebagai siswa cemerlang, Warsito kemudian pindah ke Yogyakarta, setelah namanya tertera sebagai mahasiswa Teknik Kimia UGM. Tapi dia gagal sekolah ke kampus itu, karena terbentur masalah biaya. Ia lalu merantau ke Jakarta. Beruntung, dia mendapat beasiswa di Universitas Shizuoka, Jepang, 1987. Beasiswa mengantarnya meraih gelar tertinggi akademik (S3), 1997.
Pada 1999, dia hijrah ke Amerika Serikat. Berbekal riset tentang tomografi, dia menjadi satu dari 15 peneliti papan atas dunia di Industrial Research Consortium, Ohio State University. Sebuah lembaga riset terpandang yang menjadi acuan sejumlah perusahaan minyak raksasa di dunia semisal ExxonMobil, Conoco Phillips, dan Shell.
Di tengah kesibukan riset, ia meluangkan waktu menulis di sejumlah jurnal ilmiah bertaraf internasional. Tak jarang, ia juga dipercaya menjadi pembicara utama dalam sejumlah forum ilmuwan dunia.
Momen tak terlupakan adalah tatkala ia selesai memberi sesi paripurna (plenary lecture) di konferensi internasional tentang reactor engineering di Delft, Belanda, 1999. “Itu adalah sesi paripurna sebuah konferensi besar, yang dihadiri pakar dan professor dari seluruh dunia. Sepertinya tak ada penghargaan lebih besar dari itu, yang pernah saya rasakan dalam hidup saya. Bagaikan cerita di film.”
Empat tahun dia curahkan tenaga dan waktu di Amerika. Mulai 2003 hingga 2006, ia memilih wara-wiri antara Amerika dan Indonesia. Akhirnya, dia memutuskan kembali ke Indonesia, membesarkan CTECH Labs yang dibangunnya di satu ruko mungil di kawasan Tangerang. “Cita-cita saya membangun institusi riset yang tidak kalah dengan institusi riset mana pun di dunia, dan itu di Indonesia.”
Di matanya, dunia sains di Indonesia kurang tantangan. Bukan hanya wadah yang terbatas, tapi juga interaksi antarilmuwan di ajang internasional lemah. Tantangan nyata dari industri juga minim. “Tanpa tantangan, dunia sains kita tidak akan maju,” ujarnya.(np)

Sumber: indonesiaberprestasi.web.id
Read More

Selasa, 22 Januari 2013

Unknown

Mahasiswa ITS mengubah Air Laut Jadi Bahan Bakar


Ilustrasi : Corbis
Fariz Hidayat, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menciptakan bahan bakar baru dengan menggunakan air laut yang terinsipirasi dari sebuah sky boat yang tengah melaju kencang dan tiba-tiba harus berhenti karena kehabisan bahan bakar.

Pemuda yang telah menulis karya tulis ilmiah sejak SMA ini berusaha memeras otak guna menemukan rekayasa teknologi yang bisa dimanfaatkan dari bahan sederhana dan berlimpah.

"Karena negeri kita termasuk Negeri Maritim, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber laut saja?" kata Fariz seperti dikutip dari ITS online, Senin (26/9/2011).

Pemuda asal Batu, Malang, ini pun menamakan hasil ciptaannya dengan Sky Water Energyzing. Dalam rancangan tersebut, dia menambahkan sistem filter yang dilengkapi dua reaktor, yaitu bar reactor dan screen reactor. Serta dilengkapi dengan katalis Polymer Electrode Membran Cell (PFMC).

Fariz mengungkapkan, dua buah reaktor tersebut berfungsi untuk meningkatkan pembakaran dan menjadikan air laut sebagai energi. Sedangkan PFMC, lanjutnya, berguna untuk menyaring elektron dan proton, kemudian diubah menjadi gaya gerak listrik yang mampu menggerakkan kapal nantinya.

Menurut pemuda yang meraih medali perak dalam Pekan Ilmiah Nasional (Pimnas) tahun lalu tersebut, PFMC yang berfungsi sebagai katalis dapar menghasilkan 200 watt untuk satu liter air laut agar dapat menjalankan motor kapal.

Selain dapat diaplikasikan dalam bidang olahraga speed boat, hasil karya Fariz ini dapat dimanfaatkan juga untuk kapal-kapal nelayan. Tentu dengan mengganti katalis PFMC dengan jenis lain yang lebih murah.

Berkat rancangannya ini, mahasiswa Teknik Kimia ini meraih juara tiga dalam ajang lomba Penelitian Olahraga dan Desain Produk Industri besutan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Fariz sangat menyanyangkan atas minimnya jumlah mahasiswa ITS yang ikut berpartisipasi dalam kompetisi berskala internasional tersebut. "Dari ITS hanya ada tiga perwakilan, padahal universitas lain bahkan sampai membawa bisa dalam rombongan," katanya.

Dia berharap agar ITS tidak hanya fokus dalam satu lomba karya tulis, seperti Pimnas saja. Lomba maupun kejuaran semacam ini, kata Fariz, juga perlu mendapat perhatian lebih. "Jadi, mahasiswa ITS tidak hanya bergaung di satu event saja," ujarnya.(rhs)
Read More

Selasa, 08 Januari 2013

Unknown

Sistem Operasi Baru Penantang Android


Seiring meningkatnya pengguna android yaitu sistem operasi yang bersifat terbuka (open source) dan sukses di pasar global, kini akan hadir tiga sistem operasi mobile open source lainnya di tahun 2013 ini. Mereka adalah Tizen, Firefox OS, dan Ubuntu. Ketiganya tentu bermimpi ingin seperti si robot hijau!

Tizen

Sama seperti Android, Tizen merupakan sistem operasi bersifat terbuka (open source) yang memakai inti program (kernel) Linux. Bukan hanya untuk ponsel pintar dan tablet saja, Tizen juga dirancang untuk perangkat multimedia dalam kendaraan, televisi dan sebagainya.

Ia menjadi proyek besar organisasi Linux Foundation bersama perusahaan elektronik Samsung dan produsen prosesor Intel.

Samsung dan Intel merupakan donator Linux Foundation. Keduanya duduk di dewan yayasan dan memegang pengawasan lebih besar dalam proyek Linux, termasuk sistem operasi mobile Tizen. Mereka berperan dalam urusan teknis perangkat keras.

Tizen mendapat dukungan dari operator seluler Sprint Nextel asal AS pada 7 Mei 2012, yang berkomitmen turut menjual produk Tizen di masa depan. The Automotive Grade Linux Workgroup, yang notabene adalah pemain dalam teknologi otomotif, juga menyatakan diri bergabung dalam Tizen Association.

30 April 2012, dirilislah sistem operasi Tizen versi 1.0 dengan kode nama Larkspur. Kemudian pada 25 September 2012, Tizen versi 2,0 berstatus alpha dirilis dengan kode nama Magnolia. Tizen 2.0 versi penuh akan dirilis pada Januari 2013.

Samsung akan merilis ponsel pintar dengan sistem operasi Tizen 2.0 di kuartal pertama tahun 2013 ini.

Akuisisi Google atas Motorola Mobility sempat meragukan beberapa produsen Android, yang khawatir Google akan menganakemaskan Motorola dalam industri ponsel pintar Android. Langkah Samsung mendukung proyek Tizen ini disebut-sebut sebagai upaya agar tak bergantung sepenuhnya pada Android.

Firefox OS

Ada pula sistem operasi mobile open source bernama Firefox OS. Ia dikembangkan oleh Mozilla Foundation, sebuah organisasi nirlaba yang menciptakan perangkat lunak peramban (browser)Firefox dengan logo rubah api.

Firefox OS merupakan penamaan ulang dari proyek "Boot to Gecko" (B2G), yang pada mulanya juga proyek sistem operasi mobile berbasis web terbuka dari Mozilla. Proyek B2G diumumkan Mozilla pada 25 Juli 2011.

Organisasi yang berkantor di Mountain View, Amerika Serikat ini mengatakan, Firefox OS akan menjadi ekosistem mobile yang sepenuhnya terbuka. Dibangun sepenuhnya pada standar web terbuka dan aplikasi yang dikembangkan dengan teknologi HTML5.

Mozilla berharap dapat membuka peluang bagi pengembang aplikasi untuk membangun aplikasi di Firefox OS. Mereka pun telah merancang toko aplikasi online yang kelak diberi nama Firefox Marketplace.

Segenap dukungan telah didapat Mozilla untuk proyek Firefox OS. Produsen perangkat mobile ZTE dan TCL, yang keduanya berasal dari China, siap memproduksi perangkat bersistem operasi Firefox OS. Kedua produsen akan menggunakan prosesor Snapdragon dari Qualcomm. Para pendukung berharap dapat merilis ponsel pintar Firefox OS tahun 2013.

Beberapa operator seluler juga menyuarakan dukungan untuk Firefox OS. Ada Deutsche Telekom (induk perusahaan T-Mobile), Etisalat (yang beroperasi di 18 negara termasuk Timur Tengah, Asia dan Afrika), Sprint di Amerika Serikat, dan Telefónica di Spanyol.

Ubuntu

Dari sistem operasi komputer pribadi, Ubuntu menjelma sebagai sistem operasi perangkat mobile.Sama seperti Tizen dan Android, Ubuntu dibangun dengan kernel Linux.

Canonical asal Inggris, selaku pengembang Ubuntu, mengumumkan keberadaan Ubuntu untuk perangkat ponsel pintar pada Kamis, 3 Januari 2013.

Ubuntu mobile dirancang agar dapat berjalan di perangkat dengan prosesor berarsitektur ARM dan X86. Canonical pun ingin agar Ubuntu dapat menjangkau segmen pasar kelas menengah ke bawah, dan menengah ke atas.

Untuk merayu pengembang aplikasi, Canonical berjanji untuk merilis Application Programming Interface (API) agar para pengembang mau membangun aplikasi di Ubuntu.

Canocical berharap perangkat berbasis Ubuntu dapat dirilis pada akhir 2013. Namun, belum diketahui produsen apa yang akan mengadopsi dan memasarkan perangkat tersebut.

Ketiga sistem operasi open source baru di atas tentu sedang bermimpi bisa tumbuh dan sesubur Android. Mereka berharap mendapat siraman dukungan dari industri teknologi, operator seluler, pengembang aplikasi, dan diterima di hati masyarakat. Dukungan dan ekosistem yang kuat ini membuat si robot hijau layak disebut "pintar."

Sumber : http://tekno.kompas.com/read/2013/01/04/13513638/Ini.Dia.3.Sistem.Operasi.Penantang.Android
Read More

Jumat, 28 Desember 2012

Unknown

Netbook akan punah di tahun 20013


Netbook Jenis komputer portabel  dengan bentuk mungil, bobot ringan, dan harga bersahabat pertama kali diperkenalkan oleh Asus dengan seri Eee PC  pertamanya lima tahun silam. Netbook yang   kemudian menjadi populer karena menawarkan bentuk ringkas dan harga yang murah. Namun,Ia hanya dibekali prosesor Intel Atom yang sebenarnya agak kewalahan jika dipakai membuka aplikasi yang memakan banyak memori. Ditambah lagi jika Anda membuka banyak aplikasi, maka bersiaplah untuk menunggu agak lama, Ukuran dan resolusi layar netbook tak mendukung grafis beresolusi tinggi. Laptop mungil yang sempat menjamur lewat tawaran dari berbagai merek ini mungkin akan sulit ditemui mulai tahun 2013. 


Seperti dikutip dilansir DigiTimes, pasar netbook disebut akan "resmi berakhir" setelah Acer dan Asus -dua produsen besar netbook asal Taiwan- selesai menjual stok yang tersisa.

Acer pada awal Desember 2012 mengumumkan pihaknya tak akan lagi membuat model-model netbook. "Kami mengalihkan fokus untuk meningkatkan laba, ketimbang berebut pangsa pasar secara membabibuta lewat produk yang murah tapi tidak menguntungkan," ujar CEO Acer J.T. Wang mengungkapkan alasan perusahaannya ketika itu.

Asus, sang pelopor netbook, dilaporkan telah lebih dulu menghentikan produksi netbook pada September lalu.

Di Indonesia, pihak lain yang juga akan berhenti memasarkan netbook adalah Hewlett Packard (HP). Menurut Market Development Manager HP Indonesia Cynthia Defjan, pihaknya telah menerima pengiriman (shipment) terakhir pada Oktober 2012. Mulai 2013, netbook HP disebutnya bakal menghilang dari pasaran.

Untuk menggantikan kekosongan yang ditinggalkan netbook, sejumlah produsen mengeluarkan model-mode notebook konvensional dari kelas entry level yang dijual dengan kisaran harga sedikit lebih tinggi dari netbook.

Intel sendiri disebut akan tetap memproduksi seri prosesor "Atom" yang dulu ditujukan bagi netbook. Tapi peruntukannya telah berubah menjadi embedded devices. 

Kalah dari Tablet

Penyebab kejatuhan netbook, tak lain dan tak bukan, adalah pertumbuhan komputer tablet yang luar biasa. Di Indonesia, misalnya, berdasarkan data IDC, shipment tablet naik 100 persen di kuartal kedua 2012, sementara kuartal ketiga mencatat kenaikan 50 persen.

Pasar netbook pun terkikis karena konsumen mulai lebih memilih tablet ketimbang netbook untuk memenuhi keperluan-keperluan ringan seperti browsing dan mengakses media sosial. 

Inilah yang memaksa para produsen netbook mengambil keputusan untuk berhenti memproduksi perangkat itu. Menurut DigiTimes, saat ini hanya ada dua produsen utama yang bersaing di pasar netbook, yaitu Asus dan Acer. Itupun penjualan utamanya terjadi di pasar negara berkembang, seperti di wilayah Asia Tenggara dan Afrika.

Produsen yang masih secara aktif memasarkan perangkat yang "mirip" netbook adalah Google dengan Chromebook miliknya. Chromebook adalah komputer jinjing murah yang mengandalkan jaringan cloud untuk beroperasi. 

Tidak diketahui berapa banyak Chromebook yang dibuat melalui kerjasama dengan Acer dan Samsung telah berhasil dijual, akan tetapi angkanya diperkirakan tidak banyak.

Konsep komputer ringkas dan ringan yang dipelopori oleh netbook telah diambil alih oleh Ultrabook, yang menawarkan bentuk tipis dan kinerja lebih tinggi.

Sayang, meski diprediksi bakal menjadi tren mainstream di masa depan, harga Ultrabook boleh dibilang masih berada di luar jangkauan kantong sebagian besar pengguna di tanah air.

Netbook sendiri hingga saat ini masih bisa ditemukan di pasaran Indonesia dengan kisaran harga Rp 3 juta. Mungkin keadaan ini hanya akan berlangsung sementara, sebelum stok yang tersedia habis terjual. 2013 telah dicanangkan sebagai akhir cerita bagi komputer ringkas dan murah meriah ini.
Read More